Upaya mewujudkan lingkungan sosial yang inklusif terus mendapat perhatian dari berbagai kalangan, termasuk dunia pendidikan tinggi. Salah satunya melalui keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan sosial yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk memahami keberagaman dan kebutuhan kelompok difabel.

Dewan Pengurus Daerah Gerakan untuk Kesejahteraan Tuli Indonesia (Gerkatin) Provinsi Gorontalo menggelar Pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) Dasar Level 1 – Batch 1 Tahun 2026 pada 22 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian sosial sekaligus sarana edukasi untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai komunikasi dengan penyandang Tuli.
Dalam kegiatan tersebut, dua mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Amai Gorontalo, yakni Hariri Manuharisi dan Surya Mohamad, turut mengambil bagian sebagai peserta pelatihan.

Keikutsertaan keduanya menjadi bentuk keterlibatan mahasiswa IAT dalam kegiatan sosial-keagamaan yang memiliki nilai inklusivitas. Tidak hanya memperkaya pengalaman di luar ruang akademik, pelatihan tersebut juga memberikan pemahaman baru mengenai pentingnya komunikasi yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Bagi mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, keterlibatan dalam kegiatan semacam ini memiliki relevansi dengan pengembangan kajian Al-Qur’an kontemporer. Nilai-nilai Al-Qur’an seperti penghormatan terhadap sesama, kepedulian sosial, kesetaraan, serta penghargaan terhadap perbedaan dapat diterjemahkan ke dalam tindakan nyata melalui kegiatan yang mendukung terciptanya masyarakat inklusif.
Hariri Manuharisi dan Surya Mohamad tidak sekadar mengikuti pelatihan sebagai kegiatan tambahan, tetapi juga membawa semangat akademik untuk melihat persoalan sosial dari perspektif keislaman. Kemampuan dasar bahasa isyarat yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal dalam membangun komunikasi yang lebih terbuka, khususnya ketika berinteraksi dengan komunitas Tuli di lingkungan kampus maupun masyarakat.
Kegiatan ini sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara lembaga pendidikan tinggi dan organisasi sosial. Sinergi antara UIN Sultan Amai Gorontalo dan Gerkatin Provinsi Gorontalo dapat menjadi langkah awal untuk menghadirkan berbagai program yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan isu-isu sosial kontemporer, termasuk pendidikan, komunikasi, dan pemberdayaan penyandang disabilitas.
Dengan demikian, keikutsertaan Hariri dan Surya menunjukkan bahwa mahasiswa IAT memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi di tengah masyarakat. Studi Al-Qur’an tidak berhenti pada kajian teks dan ruang akademik, tetapi juga dapat diwujudkan melalui aksi sosial yang nyata dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia tersebut menjadi contoh sederhana bagaimana pendidikan, keagamaan, dan kepedulian sosial dapat berjalan beriringan. Dari kegiatan itu, diharapkan lahir semakin banyak generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kepekaan sosial serta komitmen untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih inklusif.