Mahasiswa dan Alumni Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Ikuti Training of Trainer Al-Qur’an Isyarat untuk Pengabdian Inklusif

 

Kegiatan Training of Trainer (ToT) Al-Qur’an Isyarat merupakan salah satu bentuk nyata upaya pengabdian kepada masyarakat yang menekankan pentingnya inklusivitas dalam pendidikan dan dakwah Islam. Program ini diselenggarakan melalui kerja sama antara BAZNAS dan Lakpesdam NU, dengan melibatkan civitas akademika dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an   dan Tafsir IAIN Sultan Amai Gorontalo, baik dari kalangan dosen, alumni, maupun mahasiswa.

Pelaksanaan kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yaitu pada tanggal 27 hingga 28 November 2025, bertempat di Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo. Kegiatan dimulai sejak pukul 07.30 hingga 16.00 WITA setiap harinya, dengan rangkaian agenda yang padat dan terstruktur. Pelatihan ini dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif kepada peserta terkait metode pembelajaran Al-Qur’an berbasis bahasa isyarat, yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas, khususnya tuna rungu.

Dalam kegiatan ini, peserta tidak hanya dibekali dengan materi teoritis mengenai konsep dasar Al-Qur’an Isyarat, tetapi juga diberikan kesempatan untuk melakukan praktik langsung. Hal ini bertujuan agar peserta mampu memahami secara mendalam bagaimana proses penerjemahan ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam bahasa isyarat yang komunikatif dan mudah dipahami. Metode pembelajaran yang interaktif dan partisipatif menjadikan suasana pelatihan lebih hidup dan mendorong keterlibatan aktif dari seluruh peserta.

Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini, seperti Rahma Nur Amalia, Fauzia Duango, Nabila Salsabila Robot, Nur Annisa Tayabu, Devista Ayu, dan Indana Rahmatika, menunjukkan antusiasme yang tinggi. Keterlibatan mereka mencerminkan kepedulian generasi muda terhadap isu-isu sosial, khususnya dalam menciptakan akses pendidikan agama yang setara bagi semua kalangan.

Program ini memiliki tujuan utama untuk mencetak para trainer atau fasilitator yang kompeten dalam mengajarkan Al-Qur’an Isyarat di masyarakat. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan para peserta dapat menjadi agen perubahan yang mampu menyebarluaskan ilmu yang telah diperoleh, sehingga semakin banyak penyandang disabilitas yang dapat memahami dan mengakses Al-Qur’an dengan lebih mudah.

Kegiatan ini menjadi representasi nyata dari pengabdian Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir terhadap masyarakat, khususnya dalam memperluas akses pembelajaran Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas. Melalui keterlibatan langsung mahasiswa, jurusan tidak hanya berperan sebagai pusat pengembangan keilmuan, tetapi juga sebagai agen transformasi sosial yang responsif terhadap kebutuhan umat.

Mahasiswa IAT yang terlibat tidak sekadar hadir sebagai peserta, melainkan aktif dalam proses pembelajaran, praktik penerjemahan ayat ke dalam bahasa isyarat, hingga simulasi mengajar. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi akademik yang mereka peroleh di bangku kuliah mampu diimplementasikan secara konkret dalam konteks sosial. Dengan demikian, kegiatan ini mempertegas peran mahasiswa sebagai jembatan antara ilmu Al-Qur’an yang bersifat teoritis dengan realitas kebutuhan masyarakat yang beragam.

Lebih jauh, kegiatan ini memberikan implikasi strategis bagi masa depan Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Pengalaman praktis yang diperoleh mahasiswa membuka peluang pengembangan kurikulum yang lebih inklusif, seperti integrasi kajian tafsir dengan pendekatan disabilitas dan komunikasi berbasis bahasa isyarat. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat positioning jurusan sebagai pelopor dalam pengembangan dakwah inklusif di tingkat lokal maupun nasional. Jika terus dikembangkan secara berkelanjutan, program semacam ini berpotensi melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial dan kemampuan aplikatif yang tinggi. Pada akhirnya, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dapat menjadi rujukan dalam pengembangan model pembelajaran Al-Qur’an yang adaptif, humanis, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.