
Gorontalo, 17-18 Oktober 2024 – Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) sukses menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Guru dan Tenaga Pendidik Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara pada tanggal 17-18 Oktober 2024 di Hotel Eljie Syariah, Gorontalo. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan pemahaman guru serta tenaga pendidik dalam memberikan pendidikan yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas, khususnya disabilitas rungu wicara.
Pelatihan ini diikuti oleh berbagai peserta, termasuk dosen dari IAIN Sultan Amai Gorontalo, Mohammad Azwar Khairul dan empat mahasiswa dari IAIN Sultan Amai Gorontalo yang turut berperan aktif dalam program pendidikan untuk penyandang disabilitas. Empat mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, yaitu Rahma Nur Amalia, Indana Rahmatika Lilirtiqa, Nur Fauziah Dauwango, dan Nabila Salsabila Robot, hadir sebagai peserta pelatihan sekaligus pengajar di Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) yang diperuntukkan bagi santri penyandang disabilitas rungu wicara.
Rahma Nur Amalia, salah satu mahasiswa yang turut serta dalam pelatihan, menjelaskan bahwa kegiatan ini memberikan wawasan penting tentang pendekatan pengajaran yang tepat bagi anak-anak penyandang disabilitas. “Pelatihan ini sangat berguna untuk kami sebagai pengajar, karena kami bisa memahami lebih dalam cara berkomunikasi dan mendampingi santri disabilitas rungu wicara dalam belajar Al-Qur’an,” ujar Rahma.

Kegiatan ini juga merupakan bagian dari kolaborasi antara Kemenag, Baznas, dan Yayasan Tunarungu Hellen Wimberty Gorontalo. Setiap akhir pekan, yayasan tersebut mengadakan kegiatan rutin berupa belajar mengaji bagi santri disabilitas rungu wicara. Kolaborasi ini memberikan dampak positif dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih inklusif dan mendukung perkembangan para santri penyandang disabilitas.
Indana Rahmatika Lilirtiqa, salah satu mahasiswa peserta pelatihan, menambahkan, “Kami berharap, dengan adanya pelatihan ini, kami dapat lebih profesional dalam memberikan pengajaran, sehingga para santri penyandang disabilitas rungu wicara bisa mendapatkan pendidikan yang setara dengan teman-teman mereka.”
Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada teknik pengajaran, tetapi juga pada penguatan kemampuan komunikasi non-verbal dan pendekatan psikologis yang lebih sesuai dengan kebutuhan santri disabilitas rungu wicara. Hal ini menjadi bagian penting dalam mewujudkan pendidikan yang ramah bagi semua anak, tanpa terkecuali. Melalui pelatihan ini, diharapkan para tenaga pendidik dapat lebih siap dan terampil dalam mendidik serta membantu para santri dengan disabilitas rungu wicara untuk belajar Al-Qur’an, sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing. Kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pendidikan inklusif bagi penyandang disabilitas.
Melalui pelatihan ini, diharapkan para tenaga pendidik dapat lebih siap dan terampil dalam mendidik serta membantu para santri dengan disabilitas rungu wicara untuk belajar Al-Qur’an, sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing. Kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pendidikan inklusif bagi penyandang disabilitas.